oleh; Sunawar Owat
Bukit Sapatutn terletak di tenggah-tenggah, yang di kelilingi paling tidak lima kamung yang ada di dua desa, bukit ini mrupakan hutan lindung atau hutan adat di Binua Kaca’, Bukit ini sangat di lindungi oleh semua masyarakat yang ada di binua kaca’, dan ada kesepakatan didalam Binua kaca melalui Bide Binua dan Timanggong Binua, “Bahwa barang siapa yang berani atau berusaha menebang atau berladang di sekitar bukit sapatutn akan di kenakan sangsi”. Peraturan ini bukan baru, akan tetapi peraturan ini sudah lama di terapkan di Binua Kaca’.
Nunung, bermaksud untuk menebang pohon durian, di bukit sapatutn, yang dia (nunung) tahu bahwa durian yang ada di bukit sapatutn itu adalah milik Pak Kaben, (ayah Nunung). Katanya pohon duriatn itu bapaknya beli dari Pak Jani. Menurut beberapa sumber, bahwa pohon durian itu milik nek Timanggong, dan oleh Nek Timanggong, durian ini diberikan kepada Ne Japa sebagai penghargaan, (karena kedua orang ini sama-sama pemangku adat pada jaman itu). Pak Jani salah seorang keturunan Ne Japa, menjual Pohon durian ini kepada pak Kaben, menurut penuturan beberapa sumber, bahwa sebelum durian ini jatuh pak Kaben sudah duluan membuat pondok di situ (dibawah pohon durian), dan melihat hal itu demikian lalau terjadilah jual beli dengan pohon durian yang di beri nama Durian Ne Japa ini. Tetapi walupun ini sudah proses jual beli, bukan berarti pohon durian ini bisa di tebang atau di apakan, karena ini sudah menjadi ruang lingkup hutan adat, sudah barang tentu tidak bisa ditebang atau lain sebagainya, walupun pemilik sendiri.
Pada tanggal 27 oktober 2009, pengurus adat, aparat desa dan beberapa masyarakat biasa, naik kebukit untuk menyita sensau. Sebelum melakukan penyitaan mereka lapor dulu dengan beberapa tokoh yang ada di kamung raba. Dan setelah penyitaan mereka lapor ke Timanggong dan aparat keamanan.
Selin, kami tidak tau itu durian siapa, apakah itu duriannya sendiri ataupun durian nenek nya, kami tidak mengurus itu, yang penting ini sudah melanggar kesepakatan Binua, karena itu sudah milik Binua, ini kalau dibiarkan semua orang pasti akan mau dan berebut untuk mengambil kayu di bukit Sapatutn. Di bukit itu kan sedah menjadi hutan binua atau hutan adat, jadi sudah pasti dan jelas tidak bisa di ganggu gugat lagi. Kata pria separuh baya ini.
Dalam hasil laporan nya ke ketimanggong bahwa, timanggong akan memanggil mereka, untuk di mintai keterangan, itu dijadwalkan pada hari Jumat tanggal 30 oktober 2009. tepat tanggal yang ditetapkan, semua orang kumpul baik itu saksi dan pelaku, dan dalam keputusan timanggong bahwa pelaku di kenakan sangsi adat toto’ pangalabur.
Selasa, 10 November 2009
Masyarakat Kampung Raba mengambil tindakan tegas terhadap oknum yang menebang pohon Binua.
Diposkan oleh sunawar di 09:21 0 komentar Link ke posting ini
Label: Sumber Daya Alam
Sabtu, 22 November 2008
TEKNOLOGI MODERNITAS DAN PEREMPUAN DAYAK
Ditulis oleh Merilyn
Saturday, 15 October 2005
Sebenarnya sudah begitu banyak tulisan yang menyoroti tema teknologi bersinggungan dengan aspek budaya Dayak dengan kajian yang luas dan sangat mendalam.Pun yang berbicara mengenai hubungan teknologi dan keperempuanan dalam kerangka tradisi dan budaya Dayak.
Jika melihat teknologi dan perempuan secara terpisah, tentu kita menilai bahwa tidak ada masalah yang terjadi. Ketika teknologi, dengan segala aspek kemajuan dan kemodernitasannya menyentuh kehidupan perempuan maka segera akan nampak persoalan. Tulisan ini hendak melihat sejauh mana dan mengapa teknologi menimbulkan masalah dalam kehidupan perempuan Dayak, di mana letak permasalahannya, dan bagaimana menghilangkan atau paling tidak meminimalkan masalahnya.
Jaman di mana kita hidup sekarang ini adalah jaman kekuasaan teknologi. Teknologi telah menyulap dunia dan manusia yang hidup di dalamnya dengan menikmati hasil teknologi melalui singkat, cepat, dan mudahnya lintasan komunikasi, jalur transportasi, beban kerja yang kesemuanya itu membentuk gaya hidup baru (new life style). Lajunya rembesan teknologi tidak dapat ditahan dan dibatasi oleh ruang dan waktu. Trend mode pakaian gadis metropolitan pada saat yang sama juga dikenakan oleh gadis di desa kecil pedalaman Kalimantan atau tayangan telenovela Amerika Latin bisa ditonton oleh ibu dan remaja perempuan di kampung mereka. Perempuan yang dulu menanak nasi dengan kayu bakar (bahasa Dayak Ngaju: punduk apui) tetapi kini sudah menggunakan rice cooker atau magic jar, yang dulu menghaluskan bumbu dengan penghalus bumbu dari kayu atau batu (bahasa dayak Ngaju: pipis dan cobek) tetapi sekarang sudah ada blender, yang dulu bersenda gurau sambil duduk di amak pasar (nama salah satu jenis tikar anyaman orang Ngaju) sambil menginang tetapi sekarang menjamu tamu dengan biskuit sambil duduk di sofa sudut atau di ambal permadani made in pabrik.
Ini bukan hanya dilakukan oleh perempuan kota, tetapi perempuan yang tinggal di desa sepanjang pinggir sungai besar Kalimantan Tengah. Di tempat-tempat tertentu, dulu, ketika ada hajatan atau acara pesta perkawinan, kelahiran, atau kematian perempuan bergotong royong dengan penuh keakraban menyumbang dan menyiapkan makanan, sekarang suasana itu hampir tidak nampak lagi karena yang empunya hajatan membayar pekerja atau memesan makanan dengan sistem catering. Hal itu bukan aneh dan mutlak salah sebab perempuan Dayak berhak memanfaatkan hasil teknologi. Namun, contoh di atas seolah hendak menjelaskan bahwa kehadiran teknologi cenderung merubah bahkan menghapus nilai-nilai dan spirit tradisi dan budaya perempuan Dayak yang telah ada.
Masalah muncul kemudian setelah teknologi akhirnya mengkondisikan perempuan hidup dalam kemewahan dan kemudahan sekaligus -pelan-pelan namun pasti- melepaskan tradisi dan budayanya. Bahkan yang parah, telah muncul sikpa mendewakan teknologi dan menganggap tradisi dan budayanya sendiri sebagai sesuatu yang kuno, terbelakang alias ketinggalan, dan tidak beradab. Sesungguhnya, perempuan yang memiliki pandangan demikian telah kehilangan jati diri dan identitas sebagai perempuan Dayak. Ia sendiri telah memaksa dirinya dicabut dari akar kehidupannya. Sangat ironis dan memilukan.
Kita mesti dengan rendah hati mengakui bahwa teknologi tidak sepenuhnya menjadi biang pengikisan jati diri dan identitas perempuan Dayak yang dulu dipelihara rapi dalam bungkusan tradisi dan budayanya, walaupun memang semuanya berawal dari kemunculan teknologi. Titik masalahnya berada pada diri perempuan itu sendiri; sejauh mana ia mampu memandang dan memanfaatkan teknologi secara arif tanpa mengabaikan tradisi dan budayanya. Kenyataannya perempuan Dayak menganggap teknologi sebagai budaya baru (the new culture) mereka. Mereka menelan teknologi bulat-bulat tanpa diiringi sikap yang memadai sehingga yang nampak adalah justru kekurangarifan dalam menerima dan memanfaatkan teknologi. Arif yang dimaksud bukan berarti sentimen dan antipati terhadap teknologi demi penegakan harga diri tradisi dan budaya serta mengkerangkeng diri hidup dalam suasana ala askese melainkan menyambut baik kehadiran teknologi sambil tetap mempertahankan nilai dan spirit tradisi dan budaya. Melemparkan teknologi ke dalam tong sampah demi tradisi dan budaya -terutama bagi sebagian perempuan yang terlanjur menggantungkan diri dengan penggunaannya- adalah ahl yang mustahil. Mungkin ada segelintir perempuan yang melakukan pekerjaannya dengan tetap menggunakan alat tradisional di tengah maraknya kemajuan teknologi, itu bukan hal memalukan sebaliknya patut dihargai.
Menghadapi persoalan ini diperlukan sikap dan jawaban mendesak perempuan Dayak. Saya kira ini bukan hanya dialami oleh perempuan Dayak Ngaju Kalimantan Tengah saja, tetapi seluruh perempuan Dayak di seluruh Kalimantan pada umumnya. Menyadarkan dan menanamkan pemahaman yang benar akan eksistensi tradisi dan budaya Dayak sangat perlu. Tindakan itu dapat dilakukan baik melalui pendidikan sekolah (pelajaran muatan lokal), lokakarya, penyuluhan, pelatihan atau semacamnya. Untuk itu, maka peran media massa yang peka terhadap persoalan ini pun menjadi penting. Kehadiran banyak individu dan institusi yang peduli dan merasa terbeban akan masalah Dayak kekinian patut dibanggakan dan diacungi jempol sekaligus didukung secara penuh. Melalui perjuangan mereka menerbitkan harapan untuk menyelamatkan bahtera tradisi dan budaya Dayak yang hampir karam. Perjuangan itu mesti membentuk mata rantai yang terkait satu dengan yang lain sebagai simbol kebersamaan (bahasa Dayak Ngaju: hakarasan sama arep) memikul tanggung jawab maha besar ini secara khusus di kalangan perempuan Dayak sendiri dan kalangan perempuan Dayak bekerja sama dengan kawan jenis mereka, laki-laki Dayak. Sama seperti fenomena bola salju, perjuangan ini diharapkan akan membawa dampak yang luas dan kuat bila senantiasa digaungkan. Memang perjuangan ini amat mahal dan tidak bersifat taken for granted. ia mesti melewati proses yang panjang dan lama. Pada gilirannya, sekalipun teknologi (seolah) telah menghegemoni tradisi dan budaya habis-habisan, tetapi tidak sampai menelan habis nilai dan spiritnya. Nilai dan spirit itulah yang secara imperatif harus dijaga dan dirawat dengan penuh tanggung jawab dan konsisten dalam kerangka kesadaran dan pemahaman yang benar akan eksistensi tradisi dan budaya dayak agar ia tetap hidup; langgeng dan abadi.
Teknologi dengan segala aspeknya boleh membawa spirit dan nilai-nilai baru: konsumerisme, egoisme, rasionalisme, dll, tetapi dengan kesadaran dan pemahaman yang teguh, perempuan Dayak tidak akan membiarkan spirit dan nilai-nilai kekeluargaan, kekariban, keramahtamahan, kelembutan, kepedulian dll hengkang dari hidup mereka. Sungguh, ini merupakan spirit dan nilai-nilai yang begitu perempuan, sangat feminis! Sikap yang lahir dari spirit dan nilai yang begitu feminis ini harus kita akui menjadi fondasi melawan kekerasan, ketidakadilan, acuh, pementingan diri sendiri yang kian merajalela di sekitar kita. Dengan melanggengkan nilai dan spirit ini dari generasi kepada generasi, insya Allah, kedamaian semakin nampak. Lebih dari itu, dengan melanggengkan nilai dan spirit tradisi dan budaya Dayak secara umum, harapan bahwa kelak ketika perputaran peradaban yang terus berjalan tiba pada satu titik tertentu maka nilai-nilai dan spirit itu akan menemukan rumahnya kembali yakni tradisi dan budaya Dayak yang sesungguhnya.
Penulis : Adalah Mahasiswa S-2 Masyarakat dan Adat STT Jakarta
Diposkan oleh sunawar di 11:33 0 komentar Link ke posting ini
Label: Artikel
Seks vs Cinta
Cinta dan seks adalah sesuatu yang berbeda. Cinta adalah emosi atau sebuah perasaan. Tidak ada satupun definisi cinta, karena kata “cinta” dapat berarti banyak hal terhadap banyak orang. Sebaliknya, seks adalah suatu kejadian biologis. Walaupun terdapat berbagai macam kegiatan seks, kebanyakan mengandung sesuatu yang sama. Seks bisa jadi atau tidak termasuk penetrasi.
Beda Cinta dan Seks
Cinta:
• Cinta adalah perasaan (emosi)
• Tidak ada definisi yang tepat mengenai cinta untuk semua orang
• Cinta melibatkan perasaan romantik dan/atau ketertarikan
Seks:
• Seks adalah sebuah kejadian atau tindakan (fisik)
• Ada beberapa jenis seks namun semua jenis seks mempunyai kesamaan
• Dapat terjadi antara laki-laki dan perempuan, dua orang perempuan, dua orang laki-laki atau oleh satu orang saja (masturbasi)
Abstinen
Kata yang digunakan untuk tidak melakukan hubungan seks adalah abstinen. Bagi beberapa orang, khususnya orang-orang yang berpikiri melakukan hubungan seks tidak perlu menunggu hingga waktu yang tepat, berpikir bahwa abstinen adalah tindakan yang tidak OK. Sebenarnya, ada beberapa hal baik mengenai abstinen dan mungkin diantaranya dapat kamu terapkan.
• Abstinen, atau tidak melakukan hubungan seks baik oral, vaginal atau anal, adalah jalan yang terbaik. Sangat mungkin tertular PMS, walaupun tanpa melakukan hubungan seks penetrasi, melalui kontak antar kulit juga dapat tertular (herpes dan kutil kelamin dapat ditularkan melalui cara ini).
• Kamu juga harus memikirkan nilai diri dan perasaanmu. Waktu mudamu membawa banyak perubahan seperti bagaimana perasaan kamu tentang dirimu sendiri, keluarga, teman dan lawan jenismu. Walaupun kamu tidak memikirkan mengenai seks. Tidak peduli bagaimana perasaanmu mengenai hubungan seks, namun adalah tindakan yang pintar untuk menunggu hal tersebut hingga saat yang tepat.
Cara mengekspresikan cinta tanpa hubungan seks
Terdapat jutaan cara non seksual untuk menunjukkan kepada seseorang kalau kamu menyukainya. Kamu dapat menunjukkan kepadanya dengan menghabiskan waktu bersamanya. Pergi menonton bersama. Atau hanya sekadar jalan-jalan dan ngobrol. Jika kamu sedang berada dengan seseorang yang benar-benar kamu suka, apapun akan terasa menyenangkan. Ada cara lain untuk merasakan kedekatanmu secara fisik tanpa melakukan hubungan seks. Cara-cara ini termasuk berciuman dan berpelukan sampai saling meraba dan petting. Perlu diingat, jika kamu tidak berhati-hati, aktivitas ini dapat mengarah kepada hubungan seks. Rencanakan sebelumnya berapa jauh keadaan yang kamu inginkan, dan tetap pada pendirianmu itu. Sulit untuk mengatakan tidak, apalagi jika keadaannya sudah bertambah hangat dan berat
Diposkan oleh sunawar di 11:30 0 komentar Link ke posting ini
Label: Artikel
Dampak positif yang terjadi di masyarakat
oleh ; sunawar owat
Pada akhir-akir ini banyak orang mengelu-elukan sebuah perusahan, karena menurut mereka dengan adanya perusahan di tempat mereka, bahawa kehidupan mereka akan lebih baik dari sebelumnya. Perekonomian meingkat dan lain sebagainya. Dengan cita-cita yang begitu tinggi untuk menjadi makmur dan kaya raya, semua daerah berbondong-bondong untuk memasukan sebuah perusahan perkebunan di daerah masing-masing, ini kalu kita lihat pada saat ini, baik itu Pemerintah pusat dan sampai pemerintah yang paling bawah yaitu pemerintahan desa yang ingin mencapai target penigkatan pendapatan daerah masing-masing.
Hal itu memng betul dan baik kalau kita lihat dari satu sisi, sisi ekonomi dan pendapatan, tetapi tidak kah kita juga harus melihat dari sisi yang lain, tentang keharmonisan, dan keamanan serta kehidupan social masyarakat. Hal ini tidak pernah di liat dan diperhatiakn, hal ini dipandang tidak perlu dan bukan prioritas. Karena yang ada hanyalah keuntungan dan keuntungan. Pikiran yang seperti ini lah yang bisa membuat perpecah belahan sebuah daerah baik itu pusat dan daerah yang paling bawah, karean pemikiran seperti ini megesampingkan aspek yang lain, yang tidak tau menau apakah di bawah akan terjadi konflik atau tidak.
Sekarang ini banyak terjadi didaerah-daerah yang masuk perkebunan berskal besar yang menjatuhkan harkat dan martabat seoarang perempuan, karean dari semuanya ini perempuan yang banyak menjadi koraban, baik itu korban pelejehan seksual dall. Ya apa lagi di kampung-kampung karena pengetahuan dan pergaulan anak-anak muda baik itu perempuan dan laki-laki boleh di katakana kurang, yang percaya bahawa dengan orang datang dan bekerja di sebuah perusahaan itu orangnya sudah mapan dan lain-lain. Ini sangat kasian sekali melihatnya. Dan ada di salah satu kampung seorang pihak perkebunan telah melakukan hal yang tak senonoh kepada seoarang anak gadis di daerah itu, sampai-sampai anak gais itu hamil dan akhirnya putus sekolah.
Apakah ini yang di ingingkan oleh semua pihak? Melihat masyarakatnya sekain termarjinalkan? Apakah perbuatan-perbuatan yang begtu bisa mensejahterakan masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak bisa kita jawab dengan mengelurkan kata-kata, ini hanya bisa kita jawab dengan mata hati kita sebagai seoarang manusia.
Diposkan oleh sunawar di 08:47 0 komentar Link ke posting ini
Label: Artikel
Sabtu, 08 November 2008
Tanahku Menangis
oleh; Sunawar Owat
Saat itu,…..
Aku melihat sebuah pohon yang menari kegirangan….
Aku mendengar….suara alam bergembira ria….
Aku pun ikut….terhanyut dalam kegembiraan mereaka…
Sungguh aku senang sekali…..
Karena aku ikut merasakan kesenagan dan kegembiraan itu..
Saat ini…..
Aku melihat……mendengar…….
Suara kesedian dan tangisan…..
Aku melihat dan mendengar…..
Pohon dan alam dilanda kesediah….
Melihat mereka sedih…
Mendengar mereka menangis….
Hati ini terhanyut dalam kesdihan….
Mata ini tak terasa mengelurkan tetesan-tetesan air….
Alam…berkata…..dalam kesedian nya….
“hai…kamu manusia yang serakah,…kamu telah membuat kami menderita,
Kamu…kamu telah menghancurkan kami….
Perlu kalian ingat…pada suatu saat nanti kalian juga akan mengalami
Hal yang sama, apa yang kami alami saat ini!”
Diposkan oleh sunawar di 10:46 0 komentar Link ke posting ini
Label: Puisi
